Merawat Pancasila dari Kearifan Ternate

Sebarkan:
foto istimewa 

Oleh: RINO, M.Pd

Momantum 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan tersebut pada dasarnya bukan sekadar agenda kalender nasional, melainkan ruang refleksi untuk melihat kembali posisi Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pancasila tidak cukup dipahami sebagai dasar negara yang dibacakan dalam upacara atau dihafalkan oleh peserta didik di dalam kelas. Pancasila harus terus dihidupkan melalui perilaku, kebiasaan, pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial masyarakat.


Pertanyaan yang relevan diajukan ialah, bagaimana Pancasila dapat dan tetap hidup di tengah perubahan zaman, kehidupan generasi muda yang semakin digital, terbuka, dan terhubung dengan berbagai kebudayaan global?
Pertanyaan tersebut membawa kita pada pentingnya kearifan lokal.
 

Indonesia memiliki kekayaan kebudayaan yang tidak mungkin dilepaskan dari proses pembentukan identitas kebangsaannya. Karena itu, membangun karakter generasi muda tidak harus selalu dimulai dari konsep yang jauh dari kehidupan mereka. Pendidikan karakter justru dapat menjadi lebih bermakna ketika nilai-nilai kebangsaan dihubungkan dengan bahasa, tradisi, sejarah, dan kebudayaan yang tumbuh di lingkungan peserta didik.
 

Ternate adalah salah satu ruang kebudayaan yang penting untuk dibicarakan dalam konteks tersebut. Ternate memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Nusantara, sekaligus memiliki khazanah bahasa dan nilai sosial yang dapat digunakan untuk memperkaya pemaknaan Pancasila.
 

Salah satu bentuk pemaknaan tersebut adalah Pancasila dalam “Sila Romtoha” yaitu pengungkapan lima sila Pancasila melalui ungkapan bahasa Ternate.
1. Jou Giki Amoi — Ketuhanan Yang Maha Esa
2. mancia sema adab toma bobaso se rasai — Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 
3. Fo marimoi Indonesia — persatuan indonesia
4. Bala kusu se kano-kano manyeku hikmat se bijak toma mufakat madaha—Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalamPermusyawaratan/Perwakilan
5. Sidagi loa se banar se bala kusu se kano-kano toma Indonesia—Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia 
 

Rumusan resmi Pancasila tetap sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Adapun Sila Romtoha dalam tulisan ini merupakan cara kultural untuk menjelaskan dan mendekatkan nilai-nilai Pancasila melalui bahasa Ternate. Dengan demikian, yang dilakukan bukan mengubah Pancasila, melainkan memperluas ruang pemaknaannya melalui perspektif kebudayaan lokal.
Pendekatan semacam ini justru relevan dengan arah pendidikan karakter. 

Pemerintah melalui kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter menempatkan nilai-nilai Pancasila, seperti religiusitas, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, demokrasi, cinta tanah air, kepedulian sosial, dan tanggung jawab sebagai bagian penting dari pembentukan peserta didik. Kebijakan tersebut juga menegaskan bahwa pendidikan karakter perlu melibatkan satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat serta memperhatikan keberagaman budaya Indonesia.
Artinya, kebudayaan lokal bukan sesuatu yang berada di luar pendidikan karakter. Kebudayaan justru dapat menjadi salah satu sumber penting untuk menghidupkan nilai karakter.

Jou Giki Amoi, adalah Ketuhanan sebagai Fondasi Moral
 

Ungkapan ini memiliki kedalaman makna ketika ditempatkan dalam kehidupan masyarakat Ternate. Kajian akademik mengenai falsafah Jou se Ngofangare menunjukkan bahwa konsep Jou berkaitan dengan pemahaman mengenai Tuhan, sementara Giki Amoi dijelaskan sebagai Tuhan Yang Esa atau Yang Satu dalam konteks pemikiran keagamaan dan kebudayaan Ternate. Yang menarik dari nilai tersebut bukan semata-mata persoalan terminologi, melainkan bagaimana kesadaran ketuhanan dapat menjadi fondasi etika manusia.
 

Dalam konteks pendidikan, ketuhanan tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kemampuan peserta didik menghafalkan ajaran dan perintah agama, Pendidikan ketuhanan harus menghasilkan karakter yang tercermin dalam perilaku Kejujuran, kesediaan mengakui kesalahan, penghormatan kepada orang tua dan guru, kepedulian kepada sesama, serta kemampuan mengendalikan diri merupakan bentuk konkret dari pendidikan moral.
 

Di tengah kehidupan generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi digital, persoalan tersebut menjadi semakin penting. remaja saat ini hidup dalam lingkungan informasi yang sangat luas. Mereka dapat mengakses pengetahuan, hiburan, opini, dan berbagai bentuk budaya dalam waktu yang hampir bersamaan.
Persoalannya bukan teknologi harus dijauhkan dari generasi muda. Persoalannya adalah bagaimana membentuk generasi yang mampu menggunakan teknologi dengan kesadaran moral.
 

Dalam konteks ini, Jou Giki Amoi dapat dibaca sebagai pengingat bahwa perkembangan teknologi harus berjalan bersama perkembangan karakter. Kecerdasan digital tanpa etika dapat melahirkan penyalahgunaan. Pengetahuan tanpa moral dapat kehilangan arah.
 

Karena itu, pendidikan karakter perlu menghasilkan manusia yang bukan hanya mampu bertanya “apa yang bisa saya lakukan?”, tetapi juga “apakah yang saya lakukan benar dan bermanfaat bagi orang lain?”
 

Mancia Sema Adab Toma Bobaso se Rasai, Pendidikan Kemanusiaan
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dalam ungkapan yang digunakan Manusia yang beradab kepada sesama dengan rasa kasih sayang.
Ungkapan ini mengandung satu gagasan fundamental: manusia yang beradab bukan hanya manusia yang memiliki pengetahuan, melainkan manusia yang mampu memperlakukan manusia lain secara bermartabat.
 

Dalam kehidupan pendidikan, persoalan tersebut sangat relevan. Sekolah tidak hanya berhadapan dengan persoalan akademik, tetapi juga dengan persoalan relasi sosial antarpeserta didik. Perundungan, pengucilan, penghinaan, konflik antarteman, dan berbagai bentuk kekerasan verbal menunjukkan bahwa pendidikan karakter membutuhkan perhatian terhadap dimensi kemanusiaan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menempatkan penguatan karakter sebagai bagian penting dalam menghadapi tantangan pendidikan, termasuk kekerasan, adiksi gawai, serta berbagai persoalan yang memengaruhi perkembangan peserta didik. Pemerintah menekankan pentingnya pembiasaan karakter secara berkelanjutan di satuan pendidikan. 
 

Dalam situasi seperti itu, bobaso se rasai dapat dibaca sebagai pendidikan empati. Peserta didik harus belajar bahwa perkataan memiliki dampak. Sebuah komentar di media sosial dapat menyenangkan seseorang, tetapi juga dapat melukai. Sebuah candaan dapat dianggap biasa oleh satu orang, tetapi menjadi pengalaman traumatis bagi orang lain. Karena itu, pendidikan karakter harus mengajarkan kemampuan untuk melihat manusia lain bukan sekadar sebagai objek komunikasi, tetapi sebagai subjek yang memiliki perasaan dan martabat.
Pendidikan kemanusiaan pada akhirnya adalah pendidikan tentang kemampuan merasakan keberadaan orang lain. Di sinilah sekolah memiliki tanggung jawab penting. Budaya saling menghormati tidak cukup ditulis dalam tata tertib. Ia harus menjadi kebiasaan. Guru harus menjadi teladan, peserta didik harus dibiasakan menghormati teman, dan lingkungan sekolah harus memberikan rasa aman kepada semua warga sekolah.

Fo Marimoi Indonesia: Persatuan dalam Keberagaman

 Persatuan Indonesia, dapat dimaknai melalui ungkapan Persatuan, merupakan salah satu persoalan penting dalam kehidupan bangsa yang majemuk. Indonesia tidak hanya memiliki satu bahasa, satu kebudayaan, atau satu tradisi. Indonesia dibentuk oleh keberagaman yang sangat luas.
Karena itu, pendidikan karakter tidak boleh membangun nasionalisme dengan cara menghapus identitas lokal. Nasionalisme justru dapat diperkuat melalui pengenalan terhadap identitas lokal. Generasi muda Ternate harus dapat mengatakan bahwa mereka adalah orang Ternate sekaligus orang Indonesia. 

Identitas tersebut tidak saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya saling melengkapi. Dalam konteks Mempelajari bahasa Ternate, yakni sejarah Kesultanan Ternate, tradisi masyarakat, sastra lisan, dan sejarah rempah-rempah bukan berarti mengurangi rasa kebangsaan. Justru dari sejarah lokal, generasi muda dapat memahami bahwa perjalanan Indonesia dibangun oleh banyak pusat kebudayaan dan sejarah. Penelitian mengenai ungkapan bahasa Ternate juga menunjukkan bahwa ungkapan seperti Marimoi ngone faturu mengandung gagasan persatuan, kebersamaan, kerja sama, dan kehidupan sosial yang rukun. 
Dari perspektif pendidikan, nilai tersebut dapat diwujudkan dalam pembelajaran kolaboratif. Peserta didik tidak hanya diberi tugas secara individual. Mereka juga perlu belajar menyelesaikan persoalan secara bersama, membagi peran, menghargai kontribusi orang lain, dan bertanggung jawab terhadap hasil kelompok. Dengan demikian, persatuan tidak lagi menjadi konsep yang abstrak. Persatuan menjadi pengalaman.

Bala Kusu se Kano-Kano: Demokrasi yang Berakar pada Mufakat 

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dapat dibaca melalui ungkapan: Bala kusu se kano-kano manyeku hikmat se bijak toma mufakat madaha.

Ungkapan ini memiliki relevansi yang kuat dengan pendidikan demokrasi. Demokrasi bukan hanya tentang pemilihan pemimpin. Demokrasi merupakan kebiasaan sosial yang mengajarkan manusia untuk mendengar, berdialog, menghargai perbedaan, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama. Sekolah adalah tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenai kehidupan demokratis. Ketika seorang siswa diberi kesempatan berbicara, ketika pendapatnya didengarkan, ketika perbedaan pendapat tidak dihukum, dan ketika keputusan kelompok diambil melalui pembicaraan bersama, pada saat itu pendidikan demokrasi sedang berlangsung. Namun, demokrasi membutuhkan kebijaksanaan.

Generasi muda tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk berbicara. Mereka juga harus memiliki kemampuan mendengarkan.
Tidak cukup memiliki kebebasan berpendapat. Mereka juga harus memiliki tanggung jawab atas pendapatnya.
Tidak cukup mampu mengkritik. Mereka juga harus mampu memberikan alternatif penyelesaian.

Dalam era digital, kemampuan tersebut semakin penting. Ruang digital sering kali mendorong respons cepat sebelum refleksi mendalam. Karena itu, pendidikan harus membentuk generasi yang tidak hanya cepat bereaksi, tetapi juga mampu berpikir kritis sebelum mengambil sikap.
Di sinilah makna hikmat, bijak, dan mufakat menjadi relevan.

Sidagi Loa se Banar: Keadilan sebagai Etika Kehidupan

Sidagi loa se banar se bala kusu se kano-kano toma Indonesia. Pendidikan keadilan tidak dapat dipisahkan dari realitas kehidupan peserta didik. Anak-anak ke sekolah dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang memiliki akses teknologi yang memadai, ada yang terbatas. Ada yang mendapatkan dukungan belajar penuh dari keluarga, ada yang menghadapi berbagai keterbatasan. Karena itu, pendidikan yang berkarakter harus memiliki kesadaran terhadap keberagaman kondisi peserta didik.

Keadilan bukan berarti semua anak harus diperlakukan secara identik dalam setiap keadaan. Keadilan berarti memberikan kesempatan yang layak kepada setiap peserta didik untuk berkembang berdasarkan kebutuhan dan potensinya.
Dalam konteks ini, sidagi loa se banar juga dapat dihubungkan dengan integritas akademik. Kemudahan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, mesin pencari, dan berbagai platform digital, membuat akses terhadap informasi semakin luas. Namun, akses terhadap informasi tidak boleh menghilangkan kejujuran. Peserta didik harus diajarkan untuk menggunakan teknologi sebagai alat belajar, bukan sebagai sarana untuk menghindari proses belajar. Kebenaran menjadi penting karena pendidikan bukan sekadar tentang mendapatkan jawaban, melainkan membangun kemampuan menemukan, menguji, dan mempertanggung jawabkan sebuah jawaban.

Pendidikan Karakter Tidak Boleh Berhenti pada Hafalan Persoalan utama pendidikan karakter bukan kekurangan slogan, poster. Dan materi tentang karakter. Namun, tantangan sebenarnya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut menjadi suatu kebiasaan. Kebijakan pendidikan nasional sendiri menempatkan pendidikan karakter sebagai proses yang melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat. 

Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter menegaskan pentingnya harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan keterlibatan satuan pendidikan, keluarga, serta masyarakat. Arah kebijakan tersebut masih terlihat dalam kebijakan pendidikan 2025. Kemendikdasmen menekankan pembiasaan karakter di satuan pendidikan melalui kerja sama dengan keluarga dan masyarakat. Pemerintah juga menekankan bahwa pendidikan karakter harus kontekstual dan relevan dengan perkembangan teknologi. 

Hal Ini mengisaratkan bahwa kearifan lokal Ternate memiliki ruang yang sangat terbuka untuk menjadi bagian dari pendidikan karakter. Tetapi syaratnya jelas: kearifan lokal tidak boleh berhenti sebagai dekorasi pendidikan. 
Jika Jou Giki Amoi berbicara tentang Ketuhanan, maka nilai itu harus terlihat dalam integritas.
 

Jika mancia sema adab toma bobaso se rasai berbicara tentang kemanusiaan, maka nilai itu harus terlihat dalam empati dan penghormatan.
Jika Fo marimoi Indonesia berbicara tentang persatuan, maka nilai itu harus terlihat dalam kerja sama. Jika bala kusu se kano-kano berbicara tentang kebersamaan dan mufakat, maka nilai itu harus terlihat dalam budaya dialog. dan
Jika sidagi loa se banar berbicara tentang keadilan dan kebenaran, maka nilai itu harus terlihat dalam kejujuran dan perlakuan yang adil.
 

Inilah perbedaan antara pendidikan budaya dan pendidikan yang berakar pada budaya lokal. Kearifan Lokal sebagai Jembatan Pendidikan Modern. Ada anggapan bahwa modernisasi dan pelestarian budaya merupakan dua hal yang bertentangan. Anggapan tersebut perlu ditinjau kembali. Generasi muda tidak harus memilih antara teknologi dan tradisi. Mereka dapat menggunakan teknologi untuk melestarikan tradisi. Mereka dapat membuat dokumentasi digital bahasa Ternate. dapat mengembangkan konten sejarah lokal. membuat podcast tentang kebudayaan Ternate. Dan Mereka dapat mengembangkan film pendek tentang kehidupan masyarakat malalui media sosial untuk memperkenalkan nilai-nilai lokal kepada masyarakat luas. Dengan cara ini, teknologi tidak menjadi lawan kebudayaan, tetapi menjadi instrumen pewarisan kebudayaan.


Arah pendidikan nasional saat ini juga semakin menekankan pentingnya karakter sekaligus kemampuan menghadapi perubahan teknologi. Dalam penyesuaian kebijakan kurikulum 2025, pemerintah menekankan pendidikan yang lebih kontekstual dan adaptif, termasuk penguatan karakter serta pengenalan koding dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari pilihan pembelajaran. Tantangannya adalah memastikan bahwa kecanggihan teknologi tidak menghasilkan generasi yang kehilangan arah. Generasi muda Ternate harus mampu menjadi manusia digital tanpa kehilangan identitas kulturalnya. 
Untuk Menghidupkan Pancasila dari Timur Pada akhirnya, Pancasila tidak boleh hanya dilihat dari pusat. Pancasila juga harus dibaca dari daerah, dari desa, dari kepulauan, dari bahasa-bahasa lokal, dan dari pengalaman masyarakat yang membentuk Indonesia. Ternate memiliki pengalaman sejarah dan kebudayaan yang dapat memperkaya cara bangsa ini memahami Pancasila.
Melalui Jou Giki Amoi, kita menemukan esensi mengenai Ketuhanan.
mancia sema adab toma bobaso se rasai, kita menemukan refleksi mengenai kemanusiaan.
Fo marimoi Indonesia, kita menemukan makna persatuan. 
Melalui bala kusu se kano-kano manyeku hikmat se bijak toma mufakat madaha, kita menemukan esensi mengenai kebersamaan, kebijaksanaan, dan mufakat.
Dan Melalui sidagi loa se banar se bala kusu se kano-kano toma Indonesia, kita menemukan refleksi mengenai keadilan dan kebenaran.
Lima ungkapan tersebut menunjukkan bahwa nilai kebangsaan dapat dibicarakan melalui bahasa kebudayaan sendiri. Dari Ternate untuk Nusantara. Pendidikan karakter pada akhirnya bukan proyek satu kementerian, satu sekolah, satu guru, atau satu generasi. Pendidikan karakter adalah pekerjaan kebudayaan. Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan generasi muda Ternate, kita sebenarnya sedang berbicara tentang masa depan Indonesia. Generasi muda yang mengenal Jou Giki Amoi bukan sekadar generasi yang mengetahui sebuah ungkapan lokal. Mereka diharapkan mampu memahami bahwa kehidupan memiliki tanggung jawab moral.


Generasi muda yang memahami mancia sema adab toma bobaso se rasai bukan hanya menghafal arti sebuah kalimat. Mereka diharapkan mampu membangun hubungan sosial dengan kasih sayang dan penghormatan.
Generasi muda yang memahami Fo marimoi Indonesia tidak hanya mengetahui arti persatuan. Mereka diharapkan mampu hidup bersama di tengah perbedaan.
Generasi muda yang memahami bala kusu se kano-kano diharapkan mampu berdialog dan bermusyawarah.


Dan generasi muda yang memahami sidagi loa se banar diharapkan mampu menghargai keadilan, kebenaran, dan tanggung jawab sosial.
Dengan demikian, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal bukan nostalgia terhadap masa lalu. Ia merupakan strategi kebudayaan untuk menghadapi masa depan. Kita tidak sedang mengajak generasi muda kembali ke masa lalu. Namun tetapi mengarahkan mereka membawa nilai-nilai terbaik dari masa lalu untuk menjawab persoalan masa depan.
 

Penutup Kesaktian Pancasila pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh bagaimana kita memperingati sejarah, tetapi oleh bagaimana kita menjaga agar nilai Pancasila tetap hidup dalam kehidupan generasi berikutnya. Pancasila akan kehilangan makna apabila hanya menjadi hafalan. Pancasila menjadi bermakna ketika Ketuhanan melahirkan integritas, kemanusiaan melahirkan empati, persatuan melahirkan solidaritas, kerakyatan melahirkan budaya musyawarah, dan keadilan melahirkan kepedulian sosial.
 

Dalam konteks Ternate, nilai tersebut dapat didekatkan melalui bahasa dan kebudayaan sendiri.
Jou Giki Amoi.
Mancia sema adab toma bobaso se rasai.
Fo marimoi Indonesia.
Bala kusu se kano-kano manyeku hikmat se bijak toma mufakat madaha.
Sidagi loa se banar se bala kusu se kano-kano toma Indonesia.

Kelima ungkapan tersebut dapat menjadi jembatan antara nilai Pancasila dan pengalaman kebudayaan masyarakat Ternate. Ia memperlihatkan bahwa Pancasila bukan sesuatu yang jauh dari masyarakat. Pancasila dapat dibaca melalui bahasa lokal, dipahami melalui pengalaman budaya, dan diwujudkan melalui pendidikan.


Karena itu, Hari Kesaktian Pancasila dari Timur seharusnya bukan hanya momentum untuk mengingat bagaimana Pancasila dipertahankan pada masa lalu, tetapi juga momentum untuk bertanya bagaimana Pancasila diwariskan kepada generasi masa depan. Hal ini tidak cukup untuk menjadikan rutinitas hafalan Namunya Jawabannya adalah pendidikan. Bukan pendidikan yang tercerabut dari kebudayaan, melainkan pendidikan yang mampu mempertemukan Pancasila, tradisi, teknologi, dan karakter.


Dari Ternate, kita belajar bahwa menjadi modern tidak harus kehilangan akar. Menjadi bagian dari Indonesia tidak harus meninggalkan identitas lokal. Dan menjadi generasi digital tidak harus kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Dari Timur, Pancasila dapat berbicara melalui bahasa Ternate. Dari bahasa, lahir pemaknaan. Dari pemaknaan, lahir pendidikan. Dari pendidikan, tumbuh karakter. Dan dari karakter yang kuat, Indonesia dapat terus menjaga persatuannya dalam keberagaman Nusantara.

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini