![]() |
| foto istimewa |
TERNATE – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) terus mendorong penguatan kemitraan antara industri dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Maluku Utara.
Langkah tersebut diarahkan agar pertumbuhan investasi dan hilirisasi yang berlangsung di Maluku Utara dapat memberikan manfaat lebih luas bagi pelaku usaha lokal, terutama melalui peningkatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, pembiayaan, hingga keterlibatan UMKM dalam rantai pasok industri.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Diseminasi Kebijakan Kemitraan Usaha Nasional dalam Rangka Penanaman Modal yang digelar di Ternate, Maluku Utara.
Kegiatan itu mempertemukan sebanyak 160 pelaku UMKM dengan IWIP serta sejumlah tenant yang beroperasi di kawasan industri.
Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperoleh informasi secara langsung mengenai berbagai kebutuhan industri yang berpotensi dikerjasamakan dengan UMKM di daerah.
Selain membahas penguatan ekosistem kemitraan dan pembiayaan inklusif, kegiatan juga menghadirkan dua sesi business matching antara perusahaan dan pelaku usaha lokal.
Dalam sesi tersebut, IWIP bersama tenant memaparkan kebutuhan pekerjaan maupun pengadaan barang dan jasa melalui Scope of Work (SoW) dan Bill of Quantities (BoQ).
Skema ini diharapkan memberikan gambaran lebih jelas kepada UMKM terkait standar, jenis kebutuhan, maupun peluang usaha yang tersedia di lingkungan kawasan industri.
Investasi Diharapkan Buka Ruang Lebih Besar bagi Pengusaha Lokal
Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe, menegaskan pemerintah daerah terus mendorong investasi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan industri, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pembangunan ekonomi masyarakat.
Menurut Sarbin, meningkatnya investasi di Maluku Utara harus diikuti dengan semakin terbukanya ruang bagi pengusaha lokal untuk berkembang dan terlibat dalam kegiatan ekonomi yang tercipta dari aktivitas investasi.
Pemerintah, kata dia, membutuhkan kolaborasi bersama dunia usaha untuk menjawab kebutuhan pembangunan daerah sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas.
Investasi yang berkembang di Maluku Utara diharapkan mampu membuka lebih banyak kesempatan bagi pelaku usaha daerah untuk meningkatkan skala bisnisnya.
Dorongan terhadap kemitraan tersebut menjadi penting mengingat Maluku Utara kini menjadi salah satu daerah tujuan investasi terbesar di Indonesia.
Pada Triwulan II 2026, realisasi investasi di Maluku Utara tercatat mencapai Rp40,2 triliun, menempatkan provinsi tersebut sebagai lokasi investasi terbesar ketiga secara nasional.
Hilirisasi Harus Berjalan Bersama Penguatan Pengusaha Daerah
Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Bidang Percepatan Hilirisasi dan Peningkatan Pengusaha Nasional, Noor Sona Maesana Mushonnif, menilai pertumbuhan hilirisasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan pengusaha nasional maupun daerah.
Kemitraan yang terarah dinilai tidak hanya memberikan UMKM akses terhadap pasar industri, tetapi juga mendorong peningkatan standar usaha, kapasitas produksi, serta daya saing.
Karena itu, pertemuan antara perusahaan dan UMKM diharapkan tidak berhenti sebatas forum diskusi.
Hasil business matching diharapkan dapat berlanjut menjadi transaksi konkret dalam bentuk purchase order maupun perjanjian kerja sama antara perusahaan dengan pelaku usaha lokal.
Dengan demikian, keberadaan investasi besar dapat menjadi penggerak bagi terbentuknya ekosistem ekonomi yang melibatkan lebih banyak pengusaha daerah.
Belanja IWIP ke UMKM Capai Rp1,1 Triliun
General Manager External Relations IWIP, Yudhi Santoso, mengatakan peluang bagi UMKM Maluku Utara untuk masuk dalam rantai pasok kawasan industri masih terbuka lebar.
Sejumlah kebutuhan industri yang dapat dipenuhi pelaku usaha lokal antara lain penyediaan bahan makanan, pakaian kerja, kebutuhan operasional, jasa logistik hingga transportasi.
Pada Kuartal II 2026, realisasi belanja IWIP kepada UMKM tercatat mencapai sekitar Rp1,1 triliun.
Sementara itu, sekitar 77,6 persen belanja IWIP dilakukan di Maluku Utara.
Angka tersebut menunjukkan adanya peluang pasar yang cukup besar bagi pelaku usaha daerah untuk menjadi pemasok barang maupun jasa bagi kawasan industri.
IWIP berharap semakin banyak UMKM lokal yang tidak hanya mampu masuk ke rantai pasok industri, tetapi juga dapat mempertahankan kerja sama secara berkelanjutan.
Untuk itu, pelaku usaha didorong memperkuat legalitas usaha, menjaga konsistensi kualitas produk dan jasa, menawarkan harga yang kompetitif, memenuhi ketepatan waktu pengiriman serta memberikan pelayanan yang baik.
Perusahaan juga membuka ruang komunikasi dan kerja sama agar pelaku UMKM dapat memahami kebutuhan industri sekaligus meningkatkan kapasitas bisnis mereka.
Lima UMKM Mitra IWIP Dapat Penghargaan
Selain membuka peluang kemitraan baru, kegiatan tersebut juga menjadi momentum memberikan apresiasi kepada sejumlah UMKM yang dinilai telah berkembang bersama IWIP.
Lima mitra usaha yang mendapatkan penghargaan yakni PT Bangun Bumi Mahera, CV Sritimas Agro Silvae, CV Satu Tiga Berjaya, CV Semarak, dan CV Abadi Jaya.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, pelaku UMKM, asosiasi usaha dan perbankan diharapkan terus diperkuat agar akses pembiayaan serta kesempatan usaha bagi pengusaha lokal semakin luas.
Melalui kemitraan yang inklusif, pertumbuhan industri dan investasi di Maluku Utara diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan nilai investasi, tetapi juga menciptakan efek ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat daerah, termasuk melalui tumbuhnya UMKM yang mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri secara berkelanjutan.

