Harita Nickel Dorong Budaya Inovasi Lewat HCI, Ide Karyawan Diubah Jadi Dampak Nyata

Sebarkan:
foto istimewa 


OBI — Harita Nickel terus mendorong budaya inovasi dan perbaikan berkelanjutan melalui program Harita Continuous Improvement (HCI). Program ini menjadi ruang bagi karyawan atau Insan Harita untuk mengembangkan gagasan yang lahir dari persoalan sehari-hari di lingkungan kerja menjadi solusi yang memberikan dampak nyata bagi operasional perusahaan.

HCI dirancang sebagai bagian dari upaya membangun budaya continuous improvement di seluruh lini bisnis Harita Nickel. Tahun ini, program tersebut dibagi dalam dua kategori utama, yakni Risk Mitigation & Process Improvement serta Productivity & Cost Efficiency.

Dua kategori tersebut tidak hanya menekankan efisiensi, tetapi juga mendorong peningkatan keselamatan kerja, pengendalian risiko, kualitas proses hingga keberlanjutan operasional perusahaan.

Setelah melalui tahap penjurian proposal, HCI kini memasuki tahapan presentasi. Pada cluster unit bisnis Halmahera Persada Lygend (HPL), sebanyak 10 proposal dari dua kategori telah dipresentasikan.

Tahapan presentasi berikutnya dilaksanakan di Halmahera Jaya Feronikel (HJF) dan Trimegah Bangun Persada (TBP), sedangkan untuk Megah Surya Pertiwi (MSP) dijadwalkan berlangsung pada awal September 2026.

Deputy Head of Site PT TBP, Kiagus Muhammad Firdaus, mengatakan perbaikan harus menjadi bagian dari proses kerja yang terus berjalan.

“Continuous Improvement harus menjadi proses yang berkelanjutan. Kita perlu terus melakukan improvement dan tidak boleh berhenti beradaptasi,” ujar Kiagus.

Menurutnya, kemampuan beradaptasi dan melakukan pembenahan secara konsisten menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas kerja serta meningkatkan efektivitas operasional perusahaan.

Senada, Deputy Head of Technical Support PT HJF, Agung Aribowo, menilai kekuatan HCI terletak pada kemampuan karyawan mengubah persoalan yang ditemukan di lapangan menjadi peluang untuk melakukan perbaikan.

“Improvement akan lebih bermakna ketika lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Kita mendorong teman-teman tidak hanya menemukan masalah, tetapi juga menghadirkan solusi yang dapat memberikan dampak bagi operasional,” kata Agung.

Beragam gagasan kemudian muncul dari para peserta HCI. Salah satunya datang dari Rivaldo Mogot melalui proposal bertajuk “Optimalization the Cathode Preparation Procedure to Increase Premium Product Cobalt Electrowinning.”

Gagasan tersebut berangkat dari pengalamannya dalam mengamati proses kerja di area operasional dan mencari peluang untuk meningkatkan kualitas serta efektivitas proses.

“Melalui HCI, saya mendapat kesempatan untuk melihat kembali proses yang selama ini kami jalankan dan mencari peluang untuk membuatnya lebih optimal. Harapannya, ide ini dapat memberikan manfaat nyata,” ujar Rivaldo.

Tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, gagasan perbaikan juga menyentuh aspek lingkungan.

Milah Hudiyah, misalnya, mengajukan proposal “Eco Life Compost” yang mengangkat pemanfaatan sampah organik menjadi kompos sebagai bagian dari upaya membangun pola hidup ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Melalui Eco Life Compost, saya ingin menunjukkan bahwa sampah organik masih dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna. Harapannya, gagasan ini dapat mendorong kebiasaan yang lebih peduli terhadap lingkungan,” ungkap Milah.

Harita Nickel menilai dua gagasan tersebut menunjukkan bahwa inovasi dapat tumbuh dari berbagai kebutuhan, mulai dari peningkatan proses operasional hingga penguatan praktik keberlanjutan.

Program HCI sendiri tidak semata-mata diarahkan sebagai kompetisi untuk menentukan ide terbaik. Lebih jauh, program tersebut menjadi sarana untuk membangun kebiasaan karyawan agar mampu melihat persoalan secara kritis, memahami akar masalah dan mencari solusi yang relevan dengan kebutuhan di lapangan.

Melalui HCI, Harita Nickel ingin membangun budaya kerja yang terus berkembang dan adaptif terhadap perubahan.

Dari pengamatan sederhana di lingkungan kerja, perusahaan mendorong lahirnya ide-ide yang kemudian dapat dikembangkan menjadi inovasi dan memberikan nilai tambah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Harita Nickel menuju Operational Excellence, dengan menjadikan perbaikan berkelanjutan sebagai salah satu fondasi dalam meningkatkan kualitas, keselamatan, produktivitas dan keberlanjutan operasional perusahaan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini