![]() |
| foto istimewa |
Peluncuran buku tersebut bertepatan dengan perayaan ulang tahun Kasman yang ke-56. Momentum itu sekaligus menandai konsistensinya dalam dunia literasi hingga berhasil melahirkan sepuluh karya.
Dalam buku terbarunya, Kasman menawarkan gagasan untuk merekonstruksi cara pandang terhadap sekolah. Menurutnya, sekolah tidak seharusnya hanya dipahami sebagai tempat guru mengajar dan peserta didik menerima pelajaran, tetapi sebagai ruang hidup yang aman bagi anak untuk bertumbuh, mengembangkan potensi, serta membentuk karakter.
“Sekolah sebagai rumah tidak sekadar metamorfosis dari sebuah sekolah. Di dalamnya ada ruang hidup, ruang untuk tumbuh, dan ruang untuk membentuk karakter anak-anak kita,” kata Kasman.
Ia menjelaskan, keluarga merupakan rumah pertama bagi anak, sedangkan sekolah menjadi rumah kedua. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui capaian akademik dan aktivitas belajar mengajar di ruang kelas.
Sekolah, lanjut Kasman, harus mampu menciptakan lingkungan yang mendukung proses pendewasaan anak sekaligus membentuk mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mandiri, dan berkarakter.
Gagasan tersebut juga dikaitkan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun seluruh potensi anak agar dapat berkembang serta mencapai keselamatan dan kebahagiaan pada masa depan.
“Sekolah harus betul-betul dimaknai sebagai ruang hidup. Di dalamnya tumbuh rasa kebersamaan, solidaritas dan semangat saling memberdayakan, serta bebas dari perundungan dan kekerasan,” ujarnya.
Kasman menilai, sekolah yang ideal harus memberikan rasa aman kepada seluruh peserta didik. Lingkungan pendidikan juga harus menjadi tempat untuk menumbuhkan kepedulian, kebersamaan, dan penghargaan terhadap sesama.
Menurutnya, pengembangan pendidikan harus memperhatikan kondisi geografis dan karakter setiap wilayah. Sekolah yang berada di kawasan perkotaan memiliki kebutuhan dan persoalan yang berbeda dengan sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.
Oleh karena itu, kebijakan pendidikan tidak semestinya diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dan kondisi lingkungan tempat sekolah berada.
Kasman juga menyoroti perkembangan teknologi dan digitalisasi yang kini menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan. Namun, pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk memperluas akses terhadap informasi dan memperkuat kapasitas peserta didik.
“Digitalisasi tidak boleh membuat anak-anak kita terjebak pada kebutuhan modernitas semata. Justru digitalisasi harus menjadi instrumen penting untuk mengakses informasi sekaligus mengambil nilai-nilai positif di dalamnya,” katanya.
Melalui buku Sekolah Rumah Pendidikan, Kasman berharap muncul perubahan cara pandang terhadap penyelenggaraan pendidikan, terutama di Kabupaten Halmahera Utara.
“Sekolah harus lebih dimaknai sebagai rumah kedua kita, rumah kedua bagi anak-anak kita, dan betul-betul dimanfaatkan untuk proses pendewasaan anak,” tuturnya.
Kegiatan “Bacarita Buku” tersebut menghadirkan esais Asghar Saleh dan akademisi Dr. Jubhar Mangimbulude, M.Si., sebagai pembahas. Sementara itu, Syarifuddin Usman bertindak sebagai moderator dalam kegiatan peluncuran dan pembedahan buku tersebut.
