TERNATE – Kunjungan kerja pertama Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, ke Maluku Utara menjadi momentum penting bagi percepatan penguatan ekosistem kebudayaan dan wisata sejarah di wilayah itu. Selama dua hari, Fadli menyisir hampir 10 titik situs budaya di Ternate dan Tidore, menilai kondisi faktual lapangan, sekaligus memetakan kebutuhan revitalisasi untuk memperkuat posisi Malut sebagai salah satu pusat sejarah Nusantara.
Dalam pernyataannya di Ternate, Kamis (27/11), Fadli menegaskan bahwa Maluku Utara menyimpan aset budaya kelas dunia yang belum dimanfaatkan secara optimal. Mulai dari keraton, benteng kolonial, hingga jejak intelektual sejarah seperti kediaman naturalis Alfred Russel Wallace.
“Potensi budaya di Maluku Utara ini luar biasa besar. Kita tidak hanya perlu melindungi, tapi harus memastikan pengembangannya berjalan terarah dan memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Fadli usai menghadiri jamuan makan malam bersama rombongan dan Pemprov Malut di Bella Hotel.
Dalam tinjauannya, Fadli menyoroti beberapa hal penting:
-
Museum Kesultanan Ternate dinilai membutuhkan pembenahan tata pamer dan standardisasi agar dapat diusulkan mendapat dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK).
-
Benteng Oranje, sebagai Cagar Budaya Nasional, perlu aturan ketat agar aktivitas masyarakat di sekitarnya tidak memicu kerusakan maupun vandalisme.
-
Benteng Tuhalu, Benteng Tore, dan Benteng Umafo di Tidore kini dalam proses penataan kawasan sebagai langkah awal aktivasi wisata sejarah.
-
Makam Sultan Nuku memerlukan standardisasi narasi sejarah agar penyampaian informasi kepada publik lebih akurat.
Salah satu poin penting kunjungan Menteri adalah komitmen membangun Museum A.R. Wallace yang representatif di Ternate. Menurutnya, museum ini akan menjadi penanda kuat kontribusi Wallace bagi ilmu pengetahuan saat menetap dan meneliti di Malut.
“Wallace adalah bagian sejarah besar dunia yang lahir dari Ternate. Ini harus diabadikan secara layak,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Fadli menyampaikan apresiasi atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Zainal Abidin Syah. Ia juga menerima gelar kehormatan dari Sultan Tidore, sebagai bentuk penguatan hubungan kebudayaan.
Kunjungan ini dipandang pemerintah daerah sebagai peluang strategis untuk memperkuat kelembagaan adat, merancang pengembangan kawasan budaya-keraton yang lebih terintegrasi, serta membuka ruang investasi pariwisata sejarah yang selama ini belum tergarap maksimal.
Dengan komitmen revitalisasi yang lebih terarah, kehadiran Menteri Kebudayaan diharapkan menjadi dorongan baru agar Maluku Utara tampil sebagai salah satu poros kebudayaan dan wisata sejarah Nusantara.***
