SOFIFI — Malam puncak Festival Qasidah Rebana dan Bintang Vokalis 2025 di Alun-Alun Kota Sofifi tak hanya menampilkan kemeriahan seni Islami. Di balik lantunan syair dan alunan rebana, ribuan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) justru mengarahkan perhatian mereka pada gelombang duka yang tengah menyelimuti sebagian wilayah Sumatera.
Dalam suasana religius yang dipenuhi gema takbir dan zikir, para jemaah menggelar doa bersama untuk korban banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Agenda ini menjadi salah satu penanda bahwa festival keagamaan tersebut tidak sebatas panggung hiburan, melainkan juga wadah kepedulian sosial.
Imam Masjid Raya Shaful Khairaat, Irwan Tomasoa, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan doa kolektif ini merupakan bentuk empati masyarakat Maluku Utara terhadap sesama anak bangsa di daerah terdampak bencana.
“Festival ini bukan hanya untuk memperkuat keimanan, tetapi juga untuk mempertebal rasa persaudaraan. Doa bersama kami tujukan khusus bagi saudara-saudara kita di Aceh, Sumut, dan Sumbar,” ujarnya.
Irwan menambahkan, lantunan doa yang dipanjatkan tidak hanya memohon agar musibah segera teratasi, tetapi juga agar para korban diberikan ketabahan dan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan.
“Mudah-mudahan mereka diberikan kekuatan dan kesabaran oleh Allah SWT. Dan semoga kita semua dijauhkan dari segala bentuk musibah,” tuturnya.
Di tengah sorotan lampu panggung dan keramaian festival, momen doa bersama tersebut menjadi napas baru yang memperlihatkan bahwa seni dan spiritualitas dapat berjalan beriringan dengan solidaritas kemanusiaan. Festival Qasidah di Sofifi tahun ini pun meninggalkan pesan kuat: bahwa kepedulian tidak mengenal batas wilayah.**
